//
you're reading...
Uncategorized

SUMI

Sumi.. begitulah tetangga memanggilnya. Wanita beranak dua yang datang dari kampung, mencoba peruntungan dijakarta.
Apa dia bekerja ? Apakah dia tukang jamu ? Atau dia seorang tukang cuci dirumah tetangganya ?

Bukan, sama sekali bukan.
Sumi adalah ibu rumah tangga, dengan suami yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta.
Kehidupannya tergolong cukup. Bukan seorang yang kekurangan, namun bukan orang yang berlimpah harta pula. Rumahnya ngontrak di sebuah kampung di kawasan Jakarta.

Sekilas hidupnya memanb biasa. Pertama dia datang ke kontrakanya, dia di sambut baik. Keramahan dia dan ibunyalah yang membuat tetangga dengan cepat menerimanya. Dengan tetangga dekatnya, dia biasa ngobrol, saling tolong menolong dan saling memberi.

Tiba-tiba saja ibunya menderita sakit. Sakit yang terlihat seperti kejiwaan. Entah itu depresi atau yang lainya. Ibunya sering bicara sendiri, dan bertingkah aneh. Merasa ketakutan terhadap apapun yang ada.
Sebenarnya, perilaku ibunya tak terlalu mengganggu bagi tetangga. Karena dia masih di sekitar rumah saja.
Namun, reaksi Sumi lah yang terkesan berlebihan. Sumi sering menyebut ibunya Orang Gila, Stress dan kata-kata tak pantas lainnya. Selain itu, Sumi sering memperlakukan ibunya dengan kasar semasa sakit.
Tetangga sering terganggu dengan suaranya, dengan teriakannya yang tak kunjung pelan, pun hari sudah tengah malam.
Anak sulungnya masih belum sekolah waktu itu. Karena dia melihat ibunya setiap hari begitu, dia pun ikut-ikutan menirukan ibunya mencaci Neneknya.

Tetangga merasa iba dengan keadaan seperti itu. Sering tetangga memberi saran, agar tak mencaci maki ibunya, tapi bagi Sumi, tingkah ibunya lebih menyakitkan baginya dari pada teriakannya kepada ibunya.

Alhasil, sang ibu dijemput dan dibawa pulang kekampung oleh ayah Sumi.

Tetangga mulai lega. Mereka mengira bahwa setelah ibu Sumi dibawa pulang, tak akan ada lagi teriakan sumi yang menjengkelkan.

Tapi ternyata mereka salah.
Sepulang ibu Sumi, Sumi tetap saja sering berteriak-teriak. Masalahnya, dia memarahi anaknya yang masih balita.
Tak jarang Sumi bertindak kasar kepada anaknya. Hanger jemuran pernah dipakainya untuk memukul anaknya ( na’udzubillah min dzalik ). Hal itu di lakukannya bukan karna dia tidak sayang kepada anaknya. Bahkan terkesan dia selalu memanjakan anaknya bila di hadapkan dengan anak yang lain.

Anaknya Sumi terkesan jail dan iseng. kalu mau dibilang nakal, setiap anak memang nakal. tapi kalau yang ini dia suka cari-cari masalah dengan temen yang lainnya.
Mulai dari nimpuk temennya pakai batu ampei benjol, ngumpetin sendal, nyubit, mukul dan masih banyak lagi.  Bagi tetangga, keisengan seorang bocah itu masih bisa dimaklumi, selama orang tuanya mau memberikan pengarahan yang tepat untuknya.

Namun, tidak dengan sumi. baginya anaknya harus dilindungi dari orangn lain. tak peduli anaknya salah atau tidak. Di mata Sumi, anak oranglah yang harus disalahkan dan dimarahi tatkala anaknya nangis waktu bermain denganteman-temannya.

Hal inilah yang membuat anak-anak di komplek itu merasa kesal. Mereka yang lebih berumur dari pada anaknya Sumi, sering kesal dengan tingkah  anaknya Sumi. bahkan suatu waktu, entah masalahnya apa, anaknya Sumi pernah dikeroyok bareng-bareng.
Tindakan anaknya yang bisa terbilang kurang baik tidak lantas membuat Sumi sadar bahwa anaknya perlu diberi nasehat dan belajar meminta maaf pada orang lain.
Namun Sumi semakin tak terkendali. Siapapun yang di adukan anaknya kepada Sumi langsung di marahi habis-habisan oleh Sumi tanpa mau mengkonfirmasi dulu atas kebenaran beritanya.
Hal ini berlangsung cukup lama.
Hingga akhirnya, Ibu Sumi yang sudah sembuh dari skitnya pun harus menjemput cucunya untuk dibawa ke kampung.

Seperti dulu, tetangga mengira dengan tidak adanya anak sulung Sumi di situ, Sumi tak lagi berteriak-teriak dan memarahi anak orang.
Tapi, sekali lagi tetangga salah. Ternyata hal itu tak kunjung membuat teriakan Sumi barangsur pelan.
Kali ini Sumi masih sering berteriak teriak kepada anaknya yang masih belum genap 1 tahun.
Anak kecil memang suka nangis. Karna nangis bagi seorang anak yang belum bisa bicara adalah sebuah cara untuk berkomunikasi. Tapi, sepertinya Sumi tak mau tahu.
Selain itu,Sumi masih sering memarahi anak orang yang bermain di jalan depan rumahnya, bercanda di sekitar gang, bahkan anak-anak yang main dirumah tetangga pun tak luput dari omelannya.

Bahkan setiap ada anak-anak main bola, Sumi selalu ngomel dengan suara tinggi dan mata melotot.
“heh, jangan main disini. Brisik. Ada orang tidur ! Pergi sana, pergi ! ” katanya.

Seakan Sumi mengontrak rumah sekaligus mengontrak jalan dan kampungnya. Setiap anak bermain disitu, dilarangnya. Diomelin dan disuruh pergi. Anak-anak hanya bersungt lalu pindah tempat bermain.

Sumi….
Sebenarnya jelas terlihat, dia adalah orang yang sangat ingin di hormati. namun, dia tak mampu membuat dirinya dihormati.
Dia ingin dihargai, tapi dia tak pernah mampu membuat dirinya berharga.
Dia ingin diberi kebebasan dalam hidupnya, namun dia tak pernah menghadiahkan kebebasan itu bagi orang lain.

 

Sumi…
Betapa malangnya dirimu !!

Advertisements

About betrizbeibeh

just trying to be a better man

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: